Diposkan pada Uncategorized

Mungkin ini teguran, karena Allah cemburu.

Iklan
Diposkan pada Uncategorized

Berhenti

Hari itu aku marah.

Sangat marah.

Mengapa selalu ingkar pada kesepakatan?

Mengapa dengan mudah membatalkan?
Mungkin kamu tidak pernah serius.

Tidak benar-benar serius saat kau ucap rindu.

Sayangnya, aku selalu percaya katamu.

Selalu begitu.
Aku marah.

Dengan mudahnya kau lari tanpa ucap.

Tanpa sepatah kata maaf.

Apa hatimu terlalu beku?

Apa hatimu terlalu hitam?

Apa egomu selalu kau pertahankan?

Ah, persetan dengan semua ini.
Aku benci menangis.

Lalu saat itu aku menangis.

Aku benci dirimu.

Aku; benci.
Kau selalu datang saat kau lemah.

Lantas, kemana dirimu saat kau merasa bahagia?

Bermain kata dengan perempuan-perempuan itu?

Mengumbar kata cinta pada mereka?
Kau ternyata sama saja.

Dengan yang lainnya.

Yang hanya mengumbar kata.

Tanpa mengerti isi hati wanita.
Kau harusnya sadar.

Ibumu juga wanita.

Bagaimana jika ia terluka?

Bagaimana jika ia kecewa?
Mungkin karena kamu tidak pernah mengejar.

Sehingga kamu terlalu asyik berlari.

Tanpa mengerti, bahwa orang yang mengejarmu juga bisa lelah.

Lalu berhenti di titik frustasi.
Hingga saat tiba,

Kau akan merasa kehilangan yang nyata,

Mungkin bukan hanya merasa kehilangan jiwaku,

Tapi juga, kehilangan cintaku.
Terimakasih telah mengajarkanku,

Betapa menunggumu adalah hal yang sia-sia.

Tidak akan lagi aku percaya.

Pada apapun yang kau ucap.
Aku tidak mendoakan untuk kesedihanmu,

Hanya saja,

Yang perlu kau ingat adalah,

Karma itu nyata.

Diposkan pada Uncategorized

Kenapa rasanya sakit? Saat aku ingat dibelokan jalan itu, kamu menyapanya; wanita itu.

Kenapa rasanya sakit? Pedahal aku bukan siapa-siapa.

Kenapa rasanya sakit? Pedahal kita tidak punya hubungan apa-apa; selain berteman baik.

.

Mengapa? Mengapa jadi serumit ini? Saat aku merasa benar-benar bahagia, lalu kamu pergi begitu saja. Apa selama ini aku dan perasaanku yang salah? Mengapa? Mengapa memberi harapan kebahagiaan?

.

Luka ini masih sama, terasa sesak dalam dada. Andai saja kamu mengerti; rasa ini selalu ada.

Diposkan pada Uncategorized

Hujan di Sore Ini

Hujan di sore ini,

menandakan adanya rindu,

rindu yang masih ku simpan,

untuk kamu.
Entahlah,

rasanya masih sama,

setiap hari aku selalu jatuh,

jatuh cinta pada yang sama.
Senyummu,

bahkan saat aku menulis ini,

senyummu yang memenuhi otakku,

senyum manismu.
Mengutip lagu SO7,

Kamu adalah anugerah terindah,

yang diberikan Tuhan untukku,

Untuk hidupku.
Ketahuilah,

Sampai saat ini,

Rasaku masih sama,

Rasa yang dulu pernah ada.